vespa lovers

vespa lovers

Selasa, 15 Maret 2011

"lucky" its my DNA

Setiap orang memang tidak ada yang sempurna, namun ada orang yang berusaha untuk sempurna dan tidak sedikit orang tidak terlalu mementingkan kesempurnaan itu. Saya adalah orang yang tidak terlalu mementingkan kesempurnaan itu, tidak terlalu mengejar kesempurnaan, karena saya adalah saya. Jadi biarkan saya mengalir tanpa terburu memburu kesempurnaan.
Salah satu perjalanan hidup yang selalu saya heran, tak pernah saya duga akan keberuntungan dan kelancaran diri ini dalam mengalir di sungai kehidupan. Tidak akan ada yang menyangka ketika anda menghadapi kelokan, jeram, arus deras dan batu sekalipun yang di anggap sulit ternyata di mudahkan. Anda tentu heran mengapa bisa semudah itu, sedangkan anda berfikir itu begitu sulit dan rumit sehingga otak anda perlu berfikir sangat keras untuk menemukan jalan keluar namun ternyata dapat semudah itu di lalui, di selesaikan dan menyenangkan ketika anda mengetahuinya.
Setelah lulus dari sekolah dasar saya tidak terfikir akan melanjutkan di SMP unggulan, banyak yang bilang bahwa sangat sulit untuk bisa terdaftar di SMP unggulan tersebut dan saya pun berfikir demikian. Saya yang pernah mendapat nilai "4" merah di SD ketika ujian harian tentu sangat tidak berfikir untuk bisa masuk di SMP unggulan, jadi biarkan lah saya mengalir kearah mana saya akan menuju. Tidak ada yang berubah waktu SD hingga setelah UAN saya mendapati bahwa saya mengalir menuju SMP unggulan. Saya tidak terlalu senang mungkin karena saya tidak menyangka, lain halnya jika saya mengharapkan mengalir untuk di arahkan kemana saya mau mungkin akan sangat senang. Tidak ada yang berubah walau sudah di SMP unggulan, saya tetap mendapat nilai yang kurang, jelek dan memalukan. Tapi biarlah saya merasakan malu itu, biarkan mengalir toh rasa malu itu hanya bertahan kurang dari 5 hari pada saat itu. Saya merasa minder dengan teman-teman yang lain yang menurut penglihatan bahwa mereka adalah anak-anak unggulan. Beruntungnya saya masuk di kelas unggulan yang memaksa saya untuk belajar lebih giat agar minimal dapat mengimbangi mereka karena saya tidak berfikir untuk mengungguli mereka. Biarkan lah mengalir hingga tiba saatnya ujian kelulusan kelas 3, mereka mulai merencanakan kemana mereka akan melanjutkan sekolah setelah lulus dari sekolah ini. Tentunya banyak yang berharap dapat di terima di sekolah SMA negeri yang unggulan juga, namun saya tidak dan biarkan mengalir. Sampai saya mendapati bahwa hasil ujian akhir saya memuaskan, orangtua saya senang sekali pada saat itu dan mereka mendorong saya untuk daftar di SMA unggulan. Akhirnya saya daftar dan ikut ujian masuk, saya tidak terlalu mengharapkan. Sampai pada waktunya saya mendapati bahwa saya sedang daftar ulang di SMA unggulan tersebut. Saya tidak terlalu senang, karena menurut pengalaman bahwa sekolah unggulan adalah sangat kejam, karena saya pernah malu di sekolah unggulan gara-gara nilai yang kurang. Ternyata itu terjadi lagi di SMA unggulan, bahkan sering, ya betul nilai saya tidak jarang kurang dan harus remidial istilah pada saat itu. Tapi biarkanlah mengalir, bedanya tingkat malu di SMA lebih tinggi tingkatannya dibanding SMP. Di SMA saya mengikuti salahsatu ekskul/organisasi yang ada, PASKIBRA, itu pun bukan kemauan sendiri karena beberapa teman mengajak saya untuk ikut PASKIBRA dengan alasan bahwa saya orang yang tinggi sehingga cocok sebagai seorang PASKIBRA.. Jadi biarkanlah mengalir karena saya tidak tahu dan tidak mengerti PASKIBRA pada saat itu. Hingga saat kelas 2 saya terpilih sebagai PASKIBRAKA tingkat kota untuk mengemban tugas mengiring sangsaka Merah Putih di Hari Kemerdekaan RI. Setelah menyelesaikan tugas tersebut dan kembali kesekolah, saya mendapati guru-guru sekolah bangga kepada kami, ya tidak hanya saya yang terpilih sebagai anggota PASKIBRAKA ada beberapa teman lainnya yang juga terpilih dari seleksi yang cukup ketat itu. Tidak hanya itu saya pun mendapati bahwa saya di daftarkan teman-teman organisasi PASKIBRA sebagai kandidat calon ketua OSIS SMA dan saya menolak, namun mereka membujuk dan meminta saya untuk mewakili organisasi dalam pemilihan calon ketua OSIS tersebut. Merasa tidak enak hati akhirnya saya ikut seleksi. Pertanyaannya, mengapa harus saya yang tidak tahu apa-apa, mengapa tidak yang lain yang lebih berpengalaman dalam berorganisasi ? Tapi biarkanlan mengalir ...

Bersambung.